Cybernovel Forum Index Cybernovel
Meet and Greet! Welcome To The New Cybernovel!
 
 FAQFAQ   SearchSearch   MemberlistMemberlist   UsergroupsUsergroups   RegisterRegister 
 ProfileProfile   Log in to check your private messagesLog in to check your private messages   Log inLog in 

  Navigation
Forum
Memberlist
FAQ
Search
Recent Topics

  Warning & Notices

This Section Is For Warning/Notices.

Be careful to close all HTML commands and all quotes.

  Statistics

We have 82 registered users

The newest registered user is sugar.free

Our users have posted a total of 293 articles within 86 topics
 

  ShoutBox

Login to Shout

  Great Links

Put Links Here!

Welcome To My World!

IT'S ALIVE! IT'S ALIVE!

  Bunga di tepi pantai(II)
Posted by alea @ Sun Oct 19, 2008 12:54 pm
Hari beranjak gelap, matahari sudah tidak menampakkan sinarnya lagi, seorang gadis bertampang kumal dan lusuh asyik bersandar pada batang pohon nyiur yang daunnya bergemerisik tertiup angin.
Malam itu langit cukup cerah, sehingga banyak bintang bertaburan, hana memandang langit sambil sesekali mendesah pelan.
kriuttt....kriutt....perutnya berteriak minta diisi, entah sudah berapa lama dia membiarkannya kosong.
kriutt....perutnya bunyi lagi dan hana hanya bisa mengumpat.
"iya..iya...gw tau, aduh...laper banget lagi...sialan!"
hana menatap kamera mungil ditangan kirinya kemudian beralih pada dompet kulit bergambar bunga ditengahnya, hanya ada beberapa lembar uang didalamnya. dengan kesal hana menatap dari kejauhan rumah yang ditunjuk adam, rumha itu terlihat nyaman dan hangat.
"dasar cumi!! keterlaluan banget sih, gara-gara lu sih! gw kan gak punya duit, gimana coba? buat nginep malem ini aja gw gak tau mau dimana?" hana mengumpat-umpat kamera ditangannya. dan...
kriut...perutnya kembali bergeliat marah karena belum diisi.
"aduh...." tiba-tiba terlintas di benak hana untuk berbuat nekat, ya! berbuat nekat untuk mendatangi rumah adam dan meminta tumpangan untuk malam ini, siapa tau di juga bisa mendapatkan makan untuk mengganjal perutnya yang kosong.
dengan tekad bulat hana berdiri.
"mungkin aja orang itu bukan orang jahat, kalaupun iya, pasti gw hajar dia sebelum dia ngapa-ngapain gw! hegh! kepala cumi...awas gw datang..." tergopoh-gopoh hana berjalan menuju rumah adam, benaknya dipenuhi oleh bayangan-bayangan yang bercampur aduk. terkadang dia tertawa sendiri ketika dia membayangkan menghajar habis-habisan adam yang dalam benaknya akan berbuat kurang ajar padanya. dan terkadang dia meringis membayangkan kemungkinan buruk yang akan dia terima.
hana memandang rumah yang terbuat dari kayu itu, selangkah lagi dia menuju tangga untuk naik ke teras rumah itu. bahkan dari dekat rumah itu benar-benar terlihat nyaman dan hangat, di terasnya ada 4 buah kursi kayu yang mengelilingi meja kayu bundar yang lebar.
gadis itu melangkah perlahan naik menuju teras, dan saat sampai di depan pintu hana menghentikan langkahnya.
"tunggu dulu..." hana mundur selangkah.
"gimana kalau..." tiba-tiba pikirannya melayang tak karuan, dalam khayalannya hana melihat dirinya sehabis makan makanan yang diberi adam dia langsung tertidur, dan pada saat itu adam akan...
"akhhhhh...tidakkk....." jerit hana.
"amit-amit...ihhh...." gadis itu begidik membayangkan hal aneh dalam pikirannya.
"apanya yang amit-amit?" tiba-tiba sebuah suara dibelakang hana mengagetkan gadis itu dan spontan dia berbalik dan mundur sampai tubuhnya menempel dipintu.
"hwaaaa...."
"cih...." adam menyeringai melihat tampang hana.
"ternyata lu? ada apa?" hana menggeleng cepat.
"kalo gak ada apa-apa ngapain kesini? kameranya udah bener?" hana kembali menggeleng.
"oh...gw tau! lu mau minta makan ya? atau minta tumpangan tidur?" hana terbelalak mendengar pertanyyan adam, seolah sebuah jawaban adan tersenyum nakal menatap wajah hana. perlahan cowok itu berjalan mendekati hana.
"eh...eh...lu? lu mau ngapain?"
"tenang aja, tempat tidur gw masih luas kok, cukup buat berdua. apalagi badan lu kecil kaya gitu....."
"eh...eh...gw, gw kasih tau ya? kalau lu macem-macem gw bakal..."
"bakal apa?" tiba-tiba adam bergerak mendekatkan wajahnya kewajah hana, gadis itu menutup matanya. dia ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar, dan ketika adam menyelipkan tangannya ke pinggangnya hana semakin memejamkan matanya. kemudian....
gubrak...gadis itu jatuh terjengkang kebelakang, pintu dibelakangnya rupanya telah terbuka. dan sekarang hana terbaring disebuah ruangan yang gelap. adam berjalan melewatinya dan menyalakan lampu, cowok itu berdiri tak jauh dari tempat hana berbaring.
"mau sampe kapan tiduran disitu?"
hana mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu dengan sigap dia berdiri menatap malu pada adam dan berpura-pura membersihkan badannya.
"cih...tunggu disini" perintah adam, gadis itu tak bergeming. adam menghilang ke balik pintu dapur, hana memperhatikan ruangan disekelilingnya. ada banyak bangku yang berpasangan dengan mejanya, dan disebelah kirinya ada sebuah meja bar lengkap dengan mesin pembuat kopi dan lemari es 2 pintu.
adam kembali dari balik pintu dengan membawa secangkir susu coklat panas dan roti isi, cowok itu menaruhnya di meja dekat hana. hana menatapnya ragu.
"kenapa? lu takut minumannya dikasih racun atau obat tidur gitu? cih...liat tampang lu aja gw gak napsu...." adam menarik kursi didekatnya, kemudian mengeluarkan softdrink dari bungkusan plastik yang tadi dia bawa.
hana masih diam tak bergerak di tempat ia berdiri,menatap adam dan nampan berisi susu dan roti bergantian.
"lu kesini mau ngapain? diem terus disitu? aneh...ada cewek kaya lu ya? dandanan kumel, lusuh, udah gitu..."
"sshhh...lu tu ya? gak bisa apa gak ngehina orang?"
adam tertawa mendengar ucapan hana.
"kalo lu gak mau,biar gw buang aja. udah cape-cape orang bikin..."
adam hendak mengambil kembali nampan didepannya, tapi dengan sigap hana duduk didepannya.
"tenang aja, gak beracun kok"
perlahan hana mengambil cangkir susu dihadapannya dan menyeruputnya, ada sendasi hangat begitu minumannya melewati tenggorokannya. tanpa ragu dia melahap roti dan meneguk susu bergantian sampai semuanya habis.
adam memperhatikan cara makan gadis itu dan tersenyum samar.
"wah...kecil-kecil, makan lu banyak juga ya?"
hana menunduk malu, ada remah roti diujung bibirnya.
"jadi gimana?"
"apanya?"
"ya kamera gw! emang apaan?"
"oh itu..." hana merogoh saku celananya, mengeluarkan kamera dan menaruhnya di meja.
"gw....." gadis itu kehilangan kata-kata, dia memandang kamera dihadapannya tanpa berani menatap adam.
"cih...gw udah tau, lu pasti gak bisa kan?"
"saat ini gw gak punya duit, tapi nanti kalau gw pulang kerumah gw, pasti gw ganti....."
"apa? nanti? gak bisa! enak aja, kalo nanti lu kabur gimana? rugi dong gw..."
"enggak...gak bakalan kabur, beneran..."
"shhh, lu ini ternyata bukan cuma bodoh ya? tapi gak bertanggung jawab. hhh...kenapa gw harus berurusan sama orang kaya lu, yang taunya cuma ngerusak barang orang..."
brak! hana menggebrak meja.
"lu tuh keterlaluan ya? pake bilang kaya gitu segala? oke! gw tunjukin kalo gw bukan orang gak bertanggung jawab!"
"gimana caranya?"
"yang pasti gw gak mau jadi pelayan lu, gw bakal nyari kerja. disini!"
adam tertawa mengejek.
"kenapa? lu pikir gw gak bisa nyari kerja?"
"eh, lu pikir nyari kerja disini gampang?"
"eng...itu....gw..."
"hhh...oke kalo gitu gw kasih kesempatan lu nyari kerja besok, kalo gak dapet juga...."
"oke! gw pasti bisa! yang penting gw gak harus jadi pelayan lu!"
adam geleng-geleng kepala melihat tekad diwajah hana.
"oh..ya udah, gw mau tidur dulu. capek gw ngadepin cewek kaya lu, dan ngomong-ngomong lu nginep dimana malem ini? jangan bilang kalo lu kesini juga mau yari tumpangan tidur? gak apa-apa sih gw seneng kalo tidur ditemenin, apalagi sama cewek..." adam menyeringai nakal memandang hana dari bawah ke atas.
"ihhh...mendingan gw tidur diluar, daripada harus nemenin cowok kaya lu. amit-amit..." hana beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan.
"yakin? diluar dingin loh...."
gadis itu berbalik dan memandang adam dengan galak, kemudian tanpa berkata apa-apa dia membanting pintu.
"dia pikir dia siapa? cih..sampai kapan juga gw gak bakal mau! eh, tapi gw tidur dimana ya? buat nyewa penginapan aja duit gw gak cukup.."
hana memandang sekelilingnya, hanya ada gelap. kemudian dia menatap kursi yang ada diteras rumah adam, dengan lelah dia duduk disana menyandarkan punggungnya yang letih.
kepalanya terasa sangat berat, perlahan gadis itu menutup matanya sebelum akhirnya benar-benar tertidur lelap.
adam menghabiskan tegukan terakhir softdrinknya, dengan satu lemparan kaleng kosong itu sudah berpindah ke tempat sampah. cowok jangkung itu menggeliat, jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. dia menghampiri pintu dan memutar kenopnya, sambil tersenyum adam menghampiri tubuh hana yang teridur lelap.
cowok itu menghampirinya dan menatap wajahnya yang lelah, dan dia kembali tersenyum. entah apa arti senyumannya yang jelas ada sesuatu yang adam rasakan dalam hatinya. perlahan dia membawa tubuh hana dalam gendongannya, untuk beberapa saat hana bergumam tak jelas lalu kembali lelap. dengan hati-hati adam membopong tubuh mungil hana dan membawanya kedalam.
dalam tidurnya hana bermimpi,dia sedang berada disebuah istana yang indah dan megah. dan ada seorang pangeran tampan yang sedang menggendongnya menuju tempat tidur ternyaman yang pernah dia tempati.
adam menaikkan selimut ditubuh hana sampai dagunya, cowok itu mengumpat pelan dan tersenyum sebelum akhirnya keluar dari kamar dan membiarkan hana tertidur dengan nyaman dan lelap.

Comments(0) :: More >> Bunga di tepi pantai(II)

  Bunga Di Tepi Pantai (I)
Posted by alea @ Sat Oct 11, 2008 4:43 pm
Hana menaruh ranselnya begitu saja, kakinya pegal karena berjalan terlalu lama,tapi tak sedikitpun dia ingin beristirahat. Sore itu matahari memancarkan cahaya jingga yang menyilaukan, angin bersemilir menggoyang-goyangkan daun-daun nyiur yang berjejer ditepi pantai, dan hana masih berdiri dipinggir dermaga yang mengarah tepat ke matahari.
Bayangan tentang Evan masih melekat dalam pikirannya, dan dia masih meneteskan airmata, semua terjadi begitu cepat. Ketika Lilian sambil menggamit lengan Evan dengan mesra mengumumkan pertunangan mereka di hari ulang tahunnya, ya! di hari ulang tahun Hana. Sungguh itu merupakan kado yang tak pernah diduga sebelumnya oleh Hana, evan yang sekian lama menemaninya, selalu ada bersamanya, kini menjadi tunangan sahabatnya sendiri.
"kak Evannn...." teriak Hana, saat itu pantai sudah sepi. Hanya ada beberapa pedagang pinggiran yang sedang memberekan dagangannya, dan mereka bahkan tidak mempedulikan Hana.
"aku.....aku....aku sayang kak evannn...."
"kak evannn....aku...aku...benci kak evannnn...."
"kak evan aku...aku...gak tau ah...pusinggg....." hana berteriak panjang sampai suaranya serak, dan dia kembali menangis. Matanya hampir bengkak dan wajahnya juga keliatan lelah, rambut panjang sebahunya terurai tak beraturan.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang cowok jangkung tengah asyik memotret dengan kamera saku miliknya. Dia hampir tidak menyadari keberadaan hana disana, matahari senja mungkin lebih menarik baginya dibandingkan cewek kumal dan berantakan yang berdiri tak jauh darinya.
Cowok itu berhenti memotret ketika kameranya menangkap sosok cewek kurus dan mungil berdiri ditepi demaga, perlahan dia mendekatinya dan memperhatikan wajah Hana yang masih berurai airmata.
"kak evannnn...." teriak hana tiba-tiba. Cowok itu tersentak saking kagetnya, dan kameranya hampir terjatuh dari tangannya.
"kak evan bodoh!"
"cih! kamu yang bodoh!" cowok itu menimpali, giliran hana yang tersentak, dia menoleh ke arah cowok itu yang kini sedang asyik memotret wajahnya.
"heh...gak bisa apa gak ganggu orang lain?" bentak hana galak. cowok itu menurunkan kamera dari wajahnya.
"setahu gw ini tuh pantai buat umum, bukan milik pribadi seseorang" ucapnya cuek.
"eh...lu tuh dah ganggu orang laen tau? pake sebut-sebut gw bodoh segala! siapa sih lu?"
"gw adam, dan gw gak ngerasa ganggu orang laen"
"gw gak nanya nama lu, udah lu pergi sana deh...."
"enak aja, sebelum lu ada disini juga gw duluan yang ada disini, lu aja yang pergi"
Hana mengerutkan alisnya, dia merasa kesal dan marah terhadap cowok yang bernama Adam itu. tapi hana cuma berdiri mematung sambil memandang galak ke arah Adam.
"eh, lu abis nangis ya?" seperti menemukan sesuatu yang menarik adam mendekati hana dan memperhatikan wajahnya.
"wah, objek menarik nih..." ucap adam yang kemudian memotret wajah hana.
"eh, apa-apan sih...siapa yang suruh lu potret gue?"
"gak ada, pengen aja, motret wajah kumel punya lu"
"eh, jangan kurang aja ya? sini balikin kameranya"
hana hendak merebut kamera dari tangan adam, tapi cowok itu terlalu jangkung sehingga tangannya tak dapat meraih kamera milik adam.
"enak aja ini kan kamera gw, bukan punya lu"
"tapi lu udah motret wajah gw, gw gak terima, sini kameranya"
"coba aja ambil kalo bisa..." adam tertawa meledek hana yang masih berusaha menggapai kameranya.
Gadis itu menjadi semakin kesal dengan tingkah adam, tanpa pikir panjang dia menendang tulang kering adam sampai cowok itu meringis kesakitan dan hampir terjatuh. dengan segera hana merebut kamera dari genggaman adam, tapi cowok itu menggenggamnya dengan erat.
mereka bergulat dilantai dermaga memperebutkan kamera, hana mengempit tangan adam yang memegang kamera, sementara adam menarik-narik leher hana.
"lepasin...."
"gak...mau...ugh..."
"ayo..lepasin...."
"dibilang...gak..mau..."
"cepet...lepas..."
"eng...gak..mau..."
dan Pluk! kamera terlepas dari tangan adam dan terjatuh kepasir mengenai karang yang menyembul. wajah adam langsung shock, dengan cepat dia menyingkirkan hana yang menindih punggungnya dan perlahan dipungutnya kamera kesayangannya.
"kamera gue...." ratapnya sambil jongkok memeluk kameranya.
"heh...sukurin, suruh dilepasin juga, dasar ngeyel...wee.." hana menjulurkan lidahnya dengan puas, kemudian dia berdiri membersihkan bajunya yang terkena pasir. dengan tenang dia mengambil ranselnya dan beranjak meninggalkan adam yang masih terpuruk, baru beberapa langkah kakinya beranjak, tiba-tiba ranselnya tertahan dan dia kembali mundur.
"aduh...duh...duh..." hana berbalik, dilihatnya adam dengan wajah merengut menarik ransel hana.
"eh..apa-apaan nih? lepasin gak?"
"enggak mau..gantiin kamera gue"
"hah? gue suruh gantiin? enak aja, yang ngerusak siapa?"
"elu! lu dah ngerusak kamera gue, gantiin"
"enak aja, gue gak mau!"
"errr..." dengan kesal adam menarik paksa ransel hana sampai terlepas dari tangannya.
"eh lu mau ngapain?" hana hendak merebut kembali ranselnya tapi tubuh adam menghalanginya.
adam mengacak-acak isi ransel hana dan hampir mengeluarkan semua isinya.
"eh..baju gue...kaos gue...celana dalem gue...eh..."
"diem ah...apaan nih gak ada barang berharga sama sekali, miskin amat..."
"enak aja, kalo nyela jangan keterlaluan ya...balikin sini tas gue..."
"apa ini?" adam mengeluarkan sebuah buku saku, sampulnya berwarna merah marun dengan gambar bunga sakura berwarna pink yang sedang mekar. dipinggiran buku tertulis sebuah kalimat dalam tulisan jepang, tintanya berwarna emas.
"eh..jangan..jangan...balikin bukunya..."
adam tidak memperdulikan rengenkan hana yang mencoba merebut bukunya kembali, dibolak-baliknya isi halaman buku yang ditulis dengan rapi.
"oh...diary ya?" ujarnya sambil tertawa puas. kemudian dia mengembalikan ransel hana dan memegang buku harian hana.
"banyak rahasia ya disini?"
"eh...balikin...gak? kalo enggak..."
"kalo enggak apa?" tantang adam, hana melotot ke arah cowok itu kakinya hendak menendang kembali tulan kering adam, tetapi dengan sigap cowok itu menghindar.
"gue balikin buku ini kalo lu dah benerin kamera gue, nih!" adam menarik tangan hana dan menaruh kameranya ditelapak tangannya.
"tapi...tapi..."
"kenapa lagi? lu gak mau kan rahasia lu bocor? semuanya ada disini" adam menggoyang-goyangkan buku harian hana.
"...eng...sok aja...sok aja lu baca buku harian gue, toh lu juga gak tau siapa orang-orangnya..."
"heh..." adam menyeringai.
"gue punya cukup orang buat nyari informasi, apalagi informasinya bisa lengkap kaya disini..."
wajah hana memucat dan pikirannya mulai kalut, sejenak dia berpikir apa yang harus dilakukannya.
"kalo udah beres, lu anterin kameranya ke rumah gue, tuh disana..." adam menunjuk sebuah rumah bercat putih yang ada diujung pantai.
"kalau gue gak bisa benerin kameranya?"
"kalo gitu lu harus jadi pelayan gue selama 6 bulan!"
"hah? enak aja! mendingan gue berenang nyebrangin nih laut daripada harus jadi pelayab lu!"
"ya udah, benerin sana! ini gue tahan dulu" adam berbalik dan beranjak meninggalkan hana yang kebingungan.
"hei! awas jangan dibaca ya!"
adam mengangkat buku harian hana tanpa menoleh kearah gadis itu.
"aduh...gimana nih? gue gak punya duit lagi? aduh...ada-ada aja.." hana mendesah pelan sambil memperhatikan kamera ditangannya.

Comments(0) :: More >> Bunga Di Tepi Pantai (I)

  [R] Mencari Cinta
Posted by Vanie La Black @ Sun Nov 04, 2007 8:28 pm
BAB 1

Amanda merasakan bahwa ia berhak bahagia. Ia ingin menjadi berarti dengan datangnya cinta kedalam hidupnya. Tapi sepertinya ia tidak ditakdirkan untuk itu. Amanda hanya cewek biasa yang hidupnya sangat monoton. Pagi sekolah, siang sampai sore les privat dan malamnya belajar. Dan itu berlangsung hampir seminggu penuh... tapi untunglah tampangnya tak seaneh anak kutu buku lainnya. Adik papanya adalah seorang desainer ternama, dan tantenya itulah yang telah berjasa memberi Amanda masukan tentang mode. Selain pintar, cantik, stylish, Amanda juga anak pengusaha sukses, papa dan mamanya berkecimpung di dunia travel tour mancanegara. Dan beruntungnya lagi ia adalah anak semata wayang di rumah ini. Semua kebutuhannya selalu tercukupi, bahkan lebih dari cukup. Tapi sayang tak ada satupun cowok yang terbiasa berlama-lama di dekatnya. Karena ia populer sebagai cewek galak, blak-blakan, dan jutek.
Dan Amanda sendiri nggak tahu, kenapa sifat itu hanya muncul di depan cowok.... Dan sebenarnya ia hanya grogi dekat dengan makhluk keturunan adam itu.... mungkin itu sebabnya ia tak bisa menemukan cinta sejatinya. Karena cowok itu akan ilfeel lalu mundur teratur untuk mendekatinya.

Teng...teng...teng...teng...!!! lonceng akhir pelajaran bergemuruh dengan riuhnya, seriuh jeritan lega para penghuni kelas yang terdengar berirama. Ini adalah kelas XI IA 3, kelas Amanda dan sahabat sekaligus sepupunya, Kania.
“Nda, lo nggak ada les hari ini kan? temenin gue ke mall bentar ya!” ajak Kania.
“Ngapain? Males ah!”
“Ayo dong! Bentar kok! Gue Cuma mo beli buku”
“Buku apaan sih?” tanya Amanda heran. “Ah biar gue tebak! Pasti buku Harry Potter lagi ya???” sambungnya kemudian. Kania hanya nyengir kuda, tampangnya sungguh tak terbantahkan. Ibaratnya udah nggak bisa dibujuk buat dibatalin.
“Aduh kenapa sih lo suka banget baca gituan? Lagipula kenapa juga mau-maunya ngabisin duit buat beli buku kayak gitu?”
“Aduh jangan ceramah donk Nda! Ni tuh udah bulan Juli, gue udah nggak sabar nungguin HP kluar dari taon kemaren!” jawabnya bersemangat. Amanda tahu Harry Potter tuh keren abizzz, tapi ia lebih suka nonton filmnya daripada baca bukunya yang setebal kamus itu.
Sesampainya di mall, Kania menggiring Amanda dengan cepat ke toko buku. Wah nggak mereka sangka antreannya lumayan panjang. Banyak poster-poster Harry Potter di sana sini. Kania mulai panik, takut nggak kebagian novel yang ditunggu-tunggunya dengan tak sabar itu.
“Nia, ni buku nomer tujuh kan???”
“Hmm...” jawabnya sambil lalu. Kania sedang sibuk mempertahankan posisinya dalam antrean yang sudah mulai dibanjiri fans HP.
“Nomer enam kemaren judulnya The Goblet of Fire kan??”
“Ya ampun lo ini, judulnya aja lupa apalagi isinya! Payah lo!”
“Yee gue kan nggak sefanatik lo! Groupies!!!” omel Amanda.
“Rugi lo nggak fans ama HP!! Ni cerita paling menggemparkan di dunia! Ketenarannya akan selalu diingat seperti Star Wars!!” cerocos Kania bangga. Amanda hanya menggerutu.
“Iya temen lo bener. HP tuh keren lagi!” kata seorang cowok didepan mereka. Ikut nimbrung.
“Yee gue juga tau! Nguping aja lo!” jawab Amanda ketus. Sifat aneh ‘phobia dekat cowok’-nya mulai kambuh.
“Galak amat sih! Manis tapi kayak macan.” Komentar cowok itu sambil tersenyum jahil.
“Terserah gue donk! Udah ah Nia, gue cabut dulu, mo cuci mata! Gerah gue disini”
“Eh Nda! Gue gimana?”
“Ntar sms gue kalo udah”
“Yah temenin gue donk! Masa’ gue lo tinggal sendirian?”
“Sorry tapi gue alergi deket-deket sama Tuan Sok Pintar itu” jawab Amanda seraya menunjuk muka cowok tadi lalu beranjak pergi...
“Idih.. gue salah ngomong apa sih sama dia? Ketus amat!”
“Oh sorry, tapi temen gue emang gitu sama cowok. Alergi kali!”
“Lesbong ya?”
“Sembarangan lo! Dia normal, Cuma sedikit aneh. Sebenernya orangnya asik, Cuma jadi nggak jelas gitu kalo deket cowok”
“Emang aneh....” jawab cowok itu dengan tampang prihatin sekaligus penasaran.

* * *

Amanda menelusuri sepanjang jalan penuh pertokoan. Kanan kirinya dipenuhi aneka pemandangan menggiurkan, yang pastinya akan menggoda setiap iman ratu belanja. Amanda sesekali berhenti di salah satu etalase pakaian. “Pengeluaran di bulan tua itu sangat tidak berperikehematan!” begitu ia berprinsip. Meski sebenarnya ia punya credit card sendiri, ia bukan tipe cewek boros karena Amanda tidak terlalu doyan belanja, dirumahnya ia punya semua yang diinginkannya, gaun pesta, DVD player, televisi sendiri, tumpukan kaset DVD film teranyar, dan koleksi baju serta aksesoris pemberian dari tantenya. Tujuannya sekarang Cuma satu, mencari restoran cepat saji untuk mengisi perutnya yang mulai bergejolak. Amanda memasuki sebuah KFC, lalu memesan burger dan minumannya. Baru ia menggigit burgernya yang kedua kali, handphone Nokia seri N95-nya berbunyi.
“Ya halo!”
“Nda, elo dimana? Gue udah selesai nih!”
“Gue lagi makan di KFC, nggak jauh dari situ. Cepet kesini!”
“Oh, ya udah tungguin gue ya... jangan lupa pesenin gue makanan! Dua porsi ya! Soalnya gue ngajak orang nih!”
“Hah dua? Lo ngajak siapa?”
“Udah nggak usah banyak nanya! Sekarang gue kesitu!”. Tanpa sempat Amanda bertanya, Kania sudah menutup teleponnya. Amanda beranjak ke counter pemesanan.
“Mbak! Dua porsi burger lagi ya.. bisa tolong antar ke situ?”
“Iya tunggu sebentar ya mbak...” jawab si pelayan dengan ramah.
Tak berapa lama kemudian Kania menyapa dari arah belakang Amanda, yang kebetulan membelakangi pintu masuk.
“Oh hei... lama amat sih? Gue kan.....” kalimat Amanda terhenti begitu melihat orang nyengir di samping Kania.
“Hai! Tadi kan kita belom sempat kenalan. Nama gue Aditya.. elo?”
“Ih kok elo bawa dia sih Nia?”
“Abis orangnya asik diajak ngobrol. Jadinya gue ajak aja sekalian kesini. Sekaligus ucapan terima kasih gue, karena udah mau nemenin gue ngantri tadi.” Jawab Kania seraya duduk disamping Amanda.
“Duduk donk!” pinta Kania saat dilihatnya Aditya masih berdiri.
“Hmm.. kayaknya gue cabut aja deh. Kelihatannya temen lo ini sentimen banget sama gue.”
“Oh jangan dong! Kalo dia sih cuekin aja.. anggap aja radio rusak gitu! Nama miss jutek ini, Amanda. Nda ayo salaman!” paksa Kania disertai seringai penuh ancaman. Amanda hanya tersenyum kecut saat ia terpaksa harus menunjukkan itikad baiknya di depan cowok.
“Mbak ini pesanannya..”
“Makasih ya mbak.” Jawab Kania dengan wajah kelaparan.
“Eh lo kok tau sih makanan kesukaan gue? Jangan-jangan ini tanda-tanda kita jodoh lagi...” seloroh Aditya dengan PeDenya.
“Amit-amit deh! Gue kan Cuma mesenin yang Kania suka. Jangan GeeR deh lo!”
“Lo tambah manis kalo marah.” Jawab Aditya dengan entengnya. Mata Amanda terbelalak dan ia terbatuk-batuk keselek minumannya sendiri. Kania tak kalah terkejutnya dengan Amanda, baru kali ini ia melihat ada cowok yang berani menghadapi segala cacian dan sindiran pedas Amanda.
“Ha..ha..ha..ha... elo itu polos banget ya? Gitu aja salting” komentar Aditya. ‘kurang ajar banget sih nih cowok! Gue maki baru tau rasa lo!’ batin Amanda mangkel. Tiba-tiba Amanda berdiri.
“Elo tuh siapa sih? Baru kenal juga, sok deket banget sama kita?! Asal lo tau ya, gue nggak butuh gombalan lo! Gue Cuma mikir lo tuh cowok nggak tau sopan santun! Ngerti lo?!” maki Amanda dengan lancarnya.
“Nda...” panggil Kania, berusaha membuat Amanda sadar. Ia takut Amanda ngamuk-ngamuk nggak keruan.
“Gue nggak nafsu makan gara-gara lo! Nia cabut yuk!” ajak Amanda dengan paksa. Kania buru-buru berdiri, meraih plastik buku Harry Potternya lalu menjajari langkah Amanda yang berlalu lebih dulu. Sementara itu Aditya hanya tersenyum. Baru kali ini ia melihat ada cewek yang ogah deket-deket sama dia. Padahal di sekolahnya dulu ia termasuk The Most Wanted para cewek. Apalagi mereka memberinya gelar Man in The Year!
“Huh!! Gue sebel! Sebeeel! Kenapa sih ada cowok sesok dan senarsis itu di dunia ini?!” cerocos Amanda sesampainya mereka di tempat parkir. Selama perjalanan ke sini Kania hanya diam. Ia pun menawarkan dirinya untuk menyetir mobil Amanda, karena takut nyawanya melayang sia-sia saat Amanda nyetir dengan ugal-ugalan.
“Elo lagi! Ngapain juga ngajak dia makan sama kita? Lo tau sendiri kan dari awal gue udah nggak cocok ngomong sama dia!”
“Emangnya sejak kapan sih elo cocok ngomong sama cowok???” ledek Kania.
“Ya tapi kan dia itu kurang ajar banget! Nyebelin lagi!”
“Wajar kalee... lo sendiri? jutek banget sama dia. Padahal kan dia pertamanya ngomong sama lo baek-baek. Lo kan emang sentimen sama cowok. Kalo deket sama cowok penyakit lo pasti kambuh!”
“Maksud lo?”
“Ya penyakit ‘phobia deket cowok’ lo itu yang musti diperbaiki!”
“Sembarangan lo! Emang ada phobia kayak gitu?”
“Ada! Ya elo itu bukti nyatanya!”. Amanda mencubit lengan Kania sampai Kania mengaduh kesakitan lalu Kania teringat sesuatu...
“Tapi, gue terkesan sama cara dia memperlakukan lo..”
“Apaan sih?!”
“Kayaknya lo butuh cowok nekat buat menyembuhkan penyakit lo!”. Amanda tersenyum dengan terpaksa. Mereka pun tertawa bersama-sama.


Bersambung...

Comments(0) :: More >> [R] Mencari Cinta

  [C&C] Ai no Uta
Posted by Mikan Himura @ Sun Sep 02, 2007 12:24 pm
Untuk komen, saran, kritik, apa aja deh, silakan post di sini. Terima kasih!! Happy

Comments(3) :: More >> [C&C] Ai no Uta

  [R] Ai no Uta
Posted by Mikan Himura @ Sun Sep 02, 2007 12:18 pm
A/N : Er~ not sure apakah ber-Rating R atau M. Untuk permulaan, R dulu aja yah! Nanti kalau ceritanya berkembang lebih jauh, dinaikkan jadi M.

Ini arsip lama yang saya tulis di tengah liburan. Jadi, harap dimaafkan kalau bahasanya masih rada "kampungan"


==============================================
CHAPTER 1


Shibuya, tengah hari. Seperti Shibuya di hari-hari lainnya, Shibuya hari ini sangat padat. Orang-orang dan kendaraan berseliweran kesana kemari, seolah tidak menghiraukan teriknya matahari musim panas.
Di tengah keramaian orang berlalu lalang di trotoar, seorang gadis berambut panjang ikal berwarna pirang berusia 20-an bergaya gothic lolita baru keluar dari sebuah kafe yang cukup ramai. Sekilas penampilannya tidak jauh berbeda dengan gadis remaja di Shibuya pada umumnya, hanya saja dia berjalan sendiri. Dan sebuah pistol yang tersembunyi di balik gaunnya.

“Pukul 15.45, target baru saja keluar dari kafe. Target membawa bungkusan berisi tiga porsi bento, satu porsi sandwich, tiga softdrink dan satu capucinno dingin, tetapi target sudah menyelesaikan makan siangnya yang terdiri dari seporsi sandwich, air mineral dan secangkir espresso. Tampaknya dia membawa makanan tersebut untuk orang lain, kemungkinan besar komplotannya. Sepertinya target bisa membawa kita ke tempat persembunyiannya.” Gadis tersebut berbicara amat pelan pada microphone kecil di bajunya, sembari mengikuti target yang baru saja dibicarakan, seorang pria paruh baya yang mengenakan kemeja berwarna cerah dan kacamata matahari, menenteng bungkusan kantung kertas.

“Bagus! Tempel dia terus, usahakan agar bisa mengetahui tempat persembunyiannya! Ingat, jangan sampai terlihat mencurigakan,” jawab orang yang dihubungi gadis itu. Dia pun memutuskan hubungan.

Satsuki Kikumaru. Mahasiswi jurusan Kedokteran tingkat III Tokyo Daigaku. Termasuk mahasiswi terpandai di angkatannya. Selain pandai, dia juga cantik, bertata karma, tutur katanya sopan, persis seperti seorang Lady. Semuanya itu membuat Satsuki cukup terkenal, paling tidak di fakultasnya.

Namun, tak ada yang mengetahui kalau Satsuki punya kehidupan lain selain kehidupan mahasiswinya. Satsuki, Code Name Faye, adalah seorang agen rahasia Kepolisian Jepang yang cukup tangguh. Keahliannya dalam menyamar, diplomasi dan ketepatan menembak membuatnya sering bertugas membuntuti target, seperti sekarang.

Beruntung Satsuki tinggal di asrama, sehingga dia tidak perlu khawatir orangtuanya tahu. Yang mesti dia cemaskan hanya teman sekamarnya di asrama. Akhir-akhir ini, dia mulai curiga dan tidak puas dengan penjelasan Satsuki bahwa dia harus mengikuti “kursus merangkai bunga dan upacara minum teh” diluar jadwal kuliahnya.

“Hei, Faye!” sebuah suara riang berseru di telinganya. Satsuki tersentak, untungnya dia cepat mengendalikan diri sehingga tidak melakukan gerakan yang mencurigakan.

“Cheryl! Mau apa kau?! Apa kau tak tahu aku sedang tugas? Dasar bodoh!” Satsuki membisikkan umpatan. Dia terpaksa menjaga jarak dengan buruannya, takut kalau-kalau suaranya terdengar, atau sikapnya terlihat tidak wajar. Walaupun sepertinya itu mustahil, karena suaranya tertelan keramaian Shibuya.

“Iya, aku tahu kau sedang tugas, barusan kan kau sudah memberi laporan. Dan ingat, aku itu Kapten Tim penyelidikan ini, jadi jangan senaknya saja memanggilku bodoh.” Rupanya Cheryl ini adalah orang yang barusan dihubungi oleh Satsuki. Cheryl adalah senior Satsuki di Kepolisian, tetapi dia selalu melarang Satsuki memanggilnya Senpai. Kecuali kalau dalam misi seperti sekarang ini.

Faye menggertakkan giginya. Dia kesal juga, bukankah sebelumnya dia selalu bersikap formal pada Cheryl dalam misi? Dia mengumpat karena sikap Cheryl yang kekanak-kanakan membuatnya sedikit kesal.

“Aku pingin tahu, apa pendapatmu tentang targetmu itu? Tampan, nggak?” nada riangnya sama sekali tidak berubah. Faye kembali menggertakkan giginya menahan marah. Kali ini, dia tak bisa mengeluarkan amarahnya. Tidak dengan target yang berada sekitar 3 meter didepannya, dan orang-orang di jalan. Bisa-bisa dia dianggap gila, berteriak-teriak memaki-maki sendiri.

“Untuk seseorang yang terlihat seperti pria paruh baya yang hobi membuang uang seperti dia? Kuberi dia 4,5. Puas? Sekarang, jangan ganggu aku lagi dengan pertanyaan tidak penting! Lagipula, dia lebih cocok jadi ayahmu daripada jadi kekasihmu!” Faye hendak memutuskan pembicaraan, sebelum Cheryl berseru menyela.

“Ada apa lagi?! Jangan buat aku naik darah!” Faye membentak dalam bisikan.

“Hei, tak usah segalak itu. Aku cuma mau menambahkan, kau jangan terlalu berharap tergetmu akan membawa kita ke sarangnya. Dia hanya membawa sedikit makanan kan? Kemungkinan besar ini hanya tempat persembunyian sementara, untuk tempat transaksi atau menyekap sandera. Tapi aku berani bertaruh mereka sedang menyekap sandera,” jelas Cheryl. Faye tertarik dengan penjelasan Cheryl. Meskipun kelakuan Cheryl kekanak-kanakan dan terlihat seperti model cantik berotak kosong, tapi kemampuannya dalam menarik deduksi dan Hacking komputer sangat hebat. Amarah Faye mereda.

“Apa yang membuatmu seyakin itu?”

“Dia membawa sandwich, jenis makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tangan. Juga capucinno dingin. Itu tipe makanan yang biasa diberikan penculik pada sanderanya, untuk menghindari kemungkinan sandera menyerang menggunakan sumpit atau minuman panas. Oh, dan juga, dia hanya membawa makanan untuk sekali makan. Jadi kemungkinan pertukaran dengan sandera akan dilakukan sebelum makan malam. Kalau targetmu tergesa-gesa, berarti mereka akan mengadakan pertukaran sebentar lagi. Tapi bisa saja aku salah, jangan terlalu berharap. Bisa saja itu pesanan temannya yang sangat pemilih dalam hal makanan.”

“Aku lebih suka dugaan teman yang pemilih makanan daripada sandera. Kalau memang benar mereka mempunyai sandera, seharusnya laporannya sudah sampai di Arsip Kepolisian. Dan lagi, sandera membuat pekerjaan kita lebih berat.”

“Bukannya kau menyukai tantangan semacam itu?”

“Halo, Cheryl! Tantangan yang ini melibatkan nyawa manusia! Aku tak suka kalau harus bertanggung jawab atas nyawa manusia!”

“Aku juga sama. Tapi, mengingat dia membawa tiga porsi makanan dengan jenis yang sama, kecil kemungkinan dia akan menghiraukan permintaan seorang temannya untuk membeli makanan yang berbeda jenis. Kecuali bila orang itu jabatannya lebih tinggi dari dia.”

“Jadi? Kau yakin kalau mereka memang mempunyai sandera?”

“Beri aku lima menit. Aku periksa dulu,” kata Cheryl. Lima menit kemudian,

“Aku sudah memeriksa laporan kriminal selama seminggu ini, tapi tak ada kasus penculikan yang dilakukan oleh orang-orang yang kita curigai, atau apapun yang berhubungan dengan kasus yang sedang kita tangani ini. Dugaanku, orang yang mereka culik adalah orang penting yang berhubungan erat dengan kepolisian, atau keluarga dari pejabat kepolisian, sehingga mereka merahasiakan kejadian ini.”

“Mm…kalau itu benar, sepertinya sandera mereka adalah pejabat penting di Kepolisian, atau malah seorang agen seperti kita. Karena mereka tidak menyekap sandera di markas mereka. Pintar juga mereka, menghindari resiko markas mereka ketahuan. Ya ampun, tugas kita jadi lebih berat jadinya. Cheryl, coba cari tahu siapa agen atau petugas Kepolisian yang tidak masuk kerja atau tidak melaksanakan tugas selama seminggu ini.”

“Hei, kau sudah berani memerintah atasanmu?”

Faye menghela nafas.

“Cheryl, tolong cari tahu siapa agen atau petugas Kepolisian yang tidak masuk kerja atau tidak melaksanakan tugas selama seminggu ini. Terima kasih.”

“Bagus. Oke. Tunggu sebentar.” Satsuki memutar bola matanya. Tidak sampai lima menit, Cheryl sudah mendapatkan data yang diinginkan.

“Cheryl, orang yang kubuntuti memasuki sebuah hotel. Oh, tidak, dia berbelok ke jalan belakang sebuah perusahaan Delivery. Dan…Oh, ya ampun, dia menyamar sebagai pengantar paket di hotel! Harus kuakui, mereka sangat cerdas. Mereka sudah mengantisipasi semua kemungkinan mereka dibuntuti.”

“Tapi semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kemampuanmu membuntuti orang, kan?” Satsuki tersenyum kecil mendengar pujian Cheryl.

“Voila. Ini dia. Ada banyak nama yang muncul, tapi aku mengeliminasi beberapa yang kelihatannya tidak mungkin. Detektif Kiriya, seharusnya bertugas di Hokkaido sejak lima hari lalu, namun laporan tugasnya belum masuk ke markas. Aku berani bertaruh dia terlalu asyik bermain dengan gadis-gadis seperti biasanya, sehingga tidak sempat lapor. Ini kebiasaan buruknya. Kita coret saja dari daftar. Lalu ada Jendral Nagakurai, tidak masuk kantor sejak tiga hari lalu. Menurut keterangan, usus buntunya kambuh, dan sedang menjalani perawatan. Kelihatannya ini benar, sebab dokter pribadinya yang memberi keterangan. Detektif Ichimaru, cuti selama seminggu terhitung dari tiga hari lalu. Katanya piknik keluarga ke kampung halamannya di Pulau Honshu. Kelihatannya dia baik-baik saja, tak ada hal buruk yang menimpanya. Lalu…

Oh, Wow.” Seruan kaget Cheryl membuat Satsuki penasaran.

“Hei, Cheryl! Ada apa?” Cheryl terdiam sebentar.

“Kau pasti tidak percaya ini.”

“Memangnya ada apa? Jangan buat aku penasaran!” kejar Satsuki.

“Ada satu orang yang kelihatannya cocok dengan deduksiku. Dia agen CIA berkewarganegaraan Jepang, anggota tim yang menyelidiki jalur perdagangan gelap senjata. Aku salut, mereka hebat sekali. Mereka menyelidiki komplotan yang sama dengan kita, tapi kita sama sekali tidak menyadari keberadaan mereka. Tapi ini membuatku sedikit kesal. Mereka seolah tidak menganggap keberadaan Kepolisian Jepang. Padahal kita kan sudah berusaha keras dalam penyelidikan kali ini...” ucapan Cheryl terpotong oleh bentakan tak sabar Faye.

“Cheryl, bisa kan kau simpan pendapatmu itu nanti? Ini keadaan darurat! Cepat teruskan penjelasanmu, siapa agen itu?”

“Oke, oke! Sabar sedikit dong! Usianya sebaya denganmu. Saat ini dia sedang kuliah di New York Music School. CIA merekrutnya karena dia pernah berhasil membantu NYPD meringkus jaringan narkoba di New York. Yah, meskipun motifnya adalah balas dendam karena temannya mati over dosis, CIA tetap merekrutnya karena kemampuan deduksi serta instingnya yang tajam. Dia juga atlit menembak yang cukup hebat. Ketepatannya menembak sudah tidak diragukan lagi. Sepertinya kemampuannya sebanding denganmu. Dia sudah berada di Jepang selama dua minggu, dan menghilang sejak tiga hari lalu. Alasan menghilangnya tidak dilaporkan. Ini mencurigakan.”

“Lalu siapa agen itu?”

“Faye, jangan kaget ya. Code name-nya Holmes. Namanya...Nagi Tsukifuji.”

Satsuki seolah disambar halilintar.

================================================

Bersambung dulu ya...

Komen silakan di Thread sebelah. Terima kasih!!


Comments(0) :: More >> [R] Ai no Uta

  Welcome

The time now is Sat Jul 04, 2009 10:29 pm

All times are GMT + 7 Hours

  Log in
Username:

Password:

 Remember me


I forgot my password

Don't have an account yet?
You can register for free!
 
  Member Blogs

Put Member Blogs Links Here!

  Who is Online

In total there are 0 users online :: 0 Registered, (0 Hidden) and 0 Guests

Members online: None

[ View complete list ]

Most users ever online was 14 on Wed Nov 01, 2006 8:50 pm

0 users online today:


  Recent Posts
Favorite LotR Quotes
  by sugar.free
  on Thu May 28, 2009 11:00 pm

The Return of the King
  by sugar.free
  on Thu May 28, 2009 10:59 pm

Sherlock Holmes Mysteries
  by sugar.free
  on Thu May 28, 2009 10:58 pm

What do you do about friends that:
  by big stan
  on Tue Apr 21, 2009 11:18 pm

Types of Hugs
  by big stan
  on Tue Apr 21, 2009 11:13 pm


  Web Search
Google




Powered by phpBB © 2001, 2005 phpBB Group


Free Forum Free Top Site List
Make this Forum Ad-Free